Notification

×

Iklan

Iklan

Kapten Syafruddin Telepon Ibu Tiap Hari dari Wartel ke Pos Polisi

Minggu, 26 September 2021 | September 26, 2021 WIB Last Updated 2021-09-26T01:03:46Z

 

Dok pribadi Kapten Syafruddin dan ibunya. 

Bakti kepada ibu tak butuh pangkat, jabatan, atau deposito bank.


Ini juga bukan tentang balas jasa.


Akhirnya ini tentang keyakinan dan persoalan cara belaka.


Cerita purnawirawan polisi jenderal bintang 3 ini adalah affirmasi.


Akhir dekade 1980-an, pangkatnya belum lagi kapten polisi.


Pun, jabatan perwira muda urusan identifikasi di direktorat lalu lintas Polri baru diemban setelah setahun jadi Kapolsek di Pondok Gede, Bekasi.


Telepon genggam (smartphone) pun belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Komunikasi jarak jauh masih pakai telepon engkol.


Pesawat telepon kabel cuma di kantor dan rumah pejabat muspida.


Namun karena gelisah ingin saling berkabar dan ingin dengar suara ibunya, Hj Lu’luwiyah, Kapten Syafruddin, mengupayakan segala cara.


“Kalau mau bicara sama Mama’, saya telepon dulu ke kantor Polres Majene dari wartel. Teman bintara jaga, lalu ke rumah ibu beri kabar, satu jam lagi saya mau bicara dari Jakarta. Nah, Mama itu biasa menunggu hingga satu jam sebelum Magrib. Dan itu bisa tiap hari.” 


Kebiasaan saling berkabar atau mendengar suara sang ibu, pun berlanjut hingga dia menjabat Wakil Kepala Kepolisian RI (2016-2018) dan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi (2018-2019).


Bagi jenderal Syafruddin, harinya serasa tak sempurna jika tak mendengar suara ibunya.


“Walau sekadar tanya, Mama makan ikan apa saat sarapan.”


Syafruddin bercerita.


Di tahun kedua jadi orang kedua di Mabes Polri, dia ikut acara konferensi polisi internasional di Munich, Jerman.


Di hari ketiga, perawat sang ibu di Rumah Kayu, Tamalanrea, Makassar, mengirim kabar ‘Puang Nene’ sakit’.


Setelah izin ke Kapolri, “hari ketiga acara saya langsung pesan tiket pulang ke Makassar. “


Kala itu, usia ibunya menjelang 89 tahun.


Kondisi kesehatannya labil.


Keputusan itu benar adanya.


Setiba di Makassar, ibunya, berangsur sehat.


Bagi Syafruddin, ibu bukan wanita pengandung, melahirkan, dan membesarkanya belaka.


Syafruddin sudah sampai pada level keyakinan, doa ibu adalah kemudahan segala urusan duniawi dan jembatan kebahagiaan ukhrawi.


“Saya yakin sekali, apa yang saya dapat selama ini bukan dari siapa-siapa atau karena uang, tapi dari doa dua ibu saya.”


Ya, Syafruddin adalah anak dengan dua ibu.


Hajjah Lu’luwiyah (91) adalah ibu kandungnya.


Setengah tahun disapih, ibu kandungnya sakit parah.


Syafruddin balita pun dicarikan ibu susuan, hingga usia 3 tahun.


Di awal dekade 1960-an, seperti keyakinan ibu kebanyakan di Indonesia, “air susu ibu adalah gizi formula di dua tahun pertama.”


“Jadi saya itu boleh dibilang anak yang paling banyak saudara. Dari bapak saya 8 bersaudara. Dari ibu sesusuan, saya punya satu kakak, delapan adik.”


Dari pasangan Haji Kambo (1914-1984) dan Hj Lu’luwiyah, Syafruddin anak semata wayang.


Peran ibu susuannya, setara ibu kandungnya.


Lahir dan besar di Ujungpandang, Syafruddin menyelesaikan sekolah dasar dan menengah bersama saudara sekandung dan sesusuan.


Sebelum tamat SMP, ibu kandungnya kembali ke Banggae.


Kini Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.


Itulah kenapa Syaf remaja tamat di SMA 1 Majene.


“Tidak tiap hari, ibu saya itu kadang menunggui saya kalau pulang sekolah di SMA 1.”


Setamat SMA, tahun 1980, sang ibu ingin putranya kuliah di Universitas Hasanuddin.


“Karena merasa bisa dan yakin lulus saya ikut PMDK (penulusuran minat dan kemampuan) di fakultas kedokteran. Tapi saya tak lulus.”


Padahal, tambah Syafruddin, kala itu, ibunya saban usai salat lima waktu hingga salat hajat, untuk mendoakannya lulus di Unhas.


“Doa ibu saya kencang sekali. Tapi mungkin karena takdir, memang saya tak lulus di Unhas, namun 40 tahun kemudian, doa ibu saya dikabulkan Allah. Saya jadi ketua wali amanat Unhas, yang justru tugasnya akhir tahun ini melantik Rektor Unhas.”


Kekuatan doa dan restu dua ibunya, kembali terbukti saat Syafruddin ingin melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan di ibukota.


Sejak tahun 1981, dia berinisiatif melamar di Akademi Teknologi Perikanan, Sekolah Tinggi Penerbang di Curug, Banten, dan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) yang semua registrasinya di Jakarta.


Saat proses pendaftaran itu, ibu susuanya tak hanya mengirim doa.


“Puang Nene’ hanya di Majene"


Ibu susuannya sampai menemaninya mendaftar Akabri dan sekolah penerbang.


“Alhamdulilah, karena doa dua ibu, saya lulus ketiga-tiganya.”


Karena nilai rapor SMA sama dengan tinggi badannya, +175 cm, Ibu dan bapak angkatnya ingin sekali Syafruddin jadi penerbang.


“Tapi entah kenapa saya pilih AKABRI dan lulus di Akpol”


Syafruddin masuk Akabri 1982 dan tamat 1985. Tahun ini, Akademi Kepolisian (Akpol) di Semarang resmi terbentuk, dan berpisah dengan AKABRI tiga matra TNI (AD, AL dan AU).


Husain Abdullah (52), juru bicara Wapres Jusuf Kalla, menyebut, soal bakti kepada Ibu, Syafruddin adalah sosok langka.


Banyak berinteraksi saat periode pertama Pak JK jadi Wapres, dan saat jadi menteri, Uceng, —sapaan akrab Husain-, menyebut, Syafruddin laik jadi teladan.


“Kami selalu iri kalau lihat Pak Syaf, menelpon ibunya di sela-sela tugas negara.”


Uceng menyebut, Hj Lu’luwiyah sebagai ibu typikal “Marradia’ (bangsawan) Mandar.


“Ibu Pak Syaf itu, hanya bicara jika perlu saja. Bicaranya pelan dan teratur. Lebih banyak berbuat dari bicara.”


Lu’luwiyag memang masih kerabat dekat dengan Kiai Muhammad Thahir Imam Lapeo (1883-17 Juni 1952) di Campalagian, Polewali.


Sementara kakek buyut Syafruddin, dari garis ayahnya, masih keturunan Karaeng Sigeri, Raja Bone.


Kalaulah, tambah Uceng, Syafruddin telaten memelihara ibunya, itu karena dia tahu protap menjaga orang.


“Kontrol, detail, dan terus mengawasi kan bagian utama dari pekerjaan polisi dan ilmunya ajudan.”


Uceng menyebut, Syafruddin kini juga mulai mewasiatkan tradisi berbakti ke ibu kepada empat anak dan cucunya.


Syafruddin dan istrinya, Hj Mulyani Sarwono Sugondo, memiliki empat anak.


Rafil Perdana (38), Kharisma Bibitani (36), Adil Triansyah (29), dan bungsu Nur Alamsyah (17).


“Saya pernah lihat, bagaimana Pak Syaf ajari Alam menyuapi Puang Nene’.”


Hal senada dingkap Sekretaris DPW Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBP3) Sulsel, Dr Zakir Sabara HW.


“Rasanya tidak banyak orang seperti beliau,” kata Zakir, menggambarkan bagaimana mentornya itu, nyaris paripurna memberi teladan bagaimana mengabdi kepada kedua orangtua terutama ibu.


Memasuki tahun kedua tak lagi mendapat jabatan pemerintahan, Syafruddin lebuh banyak aktif di organisasi berafiliasi ke pengembangan keumatan dan keIslaman berwawasan ke-Indonesia.


Dia jadi Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).


Ia mendampingi Jusuf Kalla, senior yang tahun 2005-2008 dia dampingi sebagai ajudan.


Syafruddin kini menjadi tokoh Islam Indonesia.


Di saat yang sama, dia juga ikut merintis pendirian Yayasan Museum Nabi Muhammad di Indonesia, ikut keliling negara-negara Islam di dunia untuk mengkampanyekan berdirinya Universitas Islam Internasional Indonesia yang diresmikan, awal September 2021 lalu.


“Selama pandemi ini, kita jadi jadi (ketua) takmir di Masjid Sunda Kelapa, (Jakarta).”


Di setiap momen keumatan inilah, Syafruddin, banyak berinteraksi dengan tokoh umat, dan ulama. (Thamzil Thahir)



(tribuntimur)

×
Berita Terbaru Update